Selasa, 10 April 2012

How fast can you read this post?


Posted by Alison Innerd

I am a competitive person. 

When it comes to reading speed I think I am definitely the winner in my household. If my partner and I are reading something together I always end up twiddling my thumbs whilst I wait for him to finish. So when I recently attended a speed reading course it crossed my mind that it could be a waste of time. I am clearly already the Usain Bolt of reading. 

Alison Innerd - the Usain Bolt of the reading world?
Oh dear, how wrong I was! The first task was to read a piece of text for full comprehension, at normal pace for one minute and then count how many words you had read. I totalled 280. Which is within average (just) but others were getting double my score. Suddenly I felt like the ‘slow’ one in class. In my defence, other people on the course were professors so obviously a PhD student would read a lot slower. That was my excuse anyway.

I went on the course because I thought it would be brilliant to read my huge pile of journal articles in as little time as possible. Now I’m wondering whether this is a sensible idea - surely if you read fast you miss important information? Well, apparently that is not true. The trick is smooth reading. You want your eyes to focus on the words and not skip around or get distracted.

Here is the scientific bit: you have two sets of muscles in your eyes which control the lens and motion. If your eye muscles are jerky, you miss sections or read a section twice which makes reading confusing. If your eyes demonstrate smooth motion and lens control you keep presenting a steady stream of information to your mind. Maybe it is a bit more complicated than that. But it makes sense to me.

To read smoothly, ideally you need a pacer or a reading weapon such as a pen, your finger or a chopstick. Basically anything which is pointy enough to run under the words. You get your reading weapon and run it either under each word or along the side of the page. This stops your eyes from jerking and increases comprehension.

This might sound a bit ‘primary school’ but give it a go and see what you think. I used a pacer in the first task (without being told to) so I was slightly concerned with my poor performance even with the super powers of a reading weapon.

As with all physical skills you also need to do eye training. You are meant to practice speed reading every day. And yes, you do get eye ache! We were given a 25 day speed reading training programme but needless to say I have not adhered it, although I do keep telling myself I must start.....

Minggu, 08 April 2012

A new blog baby: Jen Campbell, "Weird Things Customers Say in Bookshops"

A blog baby is a writer who got a book deal or agent deal while following my blog, and who believes that the blog helped. I'm very proud to be the blog mother of lovely Jen Campbell, author of the new Weird Things Customers Say in Bookshops. Jen says, "Your blog was very helpful when submitting to agents. You are a lady of wonderful knowledge! All writers should listen, and listen carefully." *

Sabtu, 07 April 2012

IBD: Manusia dan Cinta Kasih

Nama : Nadhofa Walannae
NPM : 55411067
Kelas : 1IA03



MANUSIA DAN CINTA KASIH


A.      PENGERTIAN CINTA KASIH

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, cinta adalah rasa sangat suka kepada ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta.
Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya, cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasihlebih keluarnya; dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W. Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu keterkaitan, keintiman dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterkaitanadalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi bersama orang lain kecuali dengan dia. Kalau janji dengan dia harus ditepati. Unsur yang kedua adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan:sayang dan sebagainya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang rnengungkapkan rasa sayang, dan seterusnya.
Di dalam kitab Suci Alqur’an, ditemukanya fenomena cinta yang bersembunyi di dalam jiwa manusia. Cinta memiliki tiga tingkatan-tingkatan : tinggi, menengah dan rendah. Tingkatan cinta tersebut di atas adalah berdasarkan firman Alloh dalam surah At-Taubah ayat 24 yang artinya sebagai berikut:
katakanlah:jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

B.      CINTA MENURUT AJARAN AGAMA

Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Di satu pihak, cinta didengungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi di pihak lain dalam praktek kehidupan cinta sebagai dasar kehidupan jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulnya. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.
Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada dirinya. Sebaliknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang dan mengaktualisasikan diri. Ia juga membenci segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit, penyakit dan mara bahaya. Al-Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindar dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup. (QS, al-Adiyat, 100:8)

Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, tidak boleh tidak ia harus membatasi cintanya pada diri sendiri dan egoismenya. Pun hendaknya ia menyeimbangkan cintanya itu dengan cinta dan kasih sayang pada orang-orang lain, bekerja sama dengan dan memberi bantuan kepada orang lain. Oleh karena itu, Allah ketika memberi isyarat tentang kecintaan manusia pada dirinya sendiri, seperti yang tampak pada keluh kesahnya apabila ia tertimpa kesusahan dan usahanya yang terus menerus untuk memperoleh kebaikan serta kebakhilannya dalam memberikan sebagian karunia yang diperolehnya, setelah itu Allah langsung memberi pujian kepada orang-orang yang berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam cintanya kepada diri sendiri dan melepaskan diri dari gejala-gejala itu adalah dengan melalui iman, menegakkan shalat, memberikan zakat, bersedekah kepada orang-orang miskin dan tak punya dan menjauhi segala larangan Allah. Keimanan yang demikian ini akan bisa menyeimbangkan antara cintanya kepada diri sendiri dan cintanya pada orang lain, dan dengan demikian akan bisa merealisasikan kebaikan individu dan masyarakat.
Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang yang beriman agan saling cinta-mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada para mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri.

Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu Istri-istri dan jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan  dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir. (QS, Ar-Rum, 30:21)
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi penting. yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan seksual lah terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi ramai, bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan industri menjadi maju. Islam mengakui dorongan seksual dan tidak mengingkarinya. Jelas dengan sendirinya ia mengakui pula cinta seksual yang menyertai dorongan tersebut. Sebab ia merupakan emosi alamiah dalam diri manusia yang tidak diingkari, tidak ditentang ataupun ditekannya. Yang diserukan Islam hanyalah pengendalian dan penguasaan cinta ini, lewat pemenuhan dorongan tersebut dengan cam yang sah, yaitu dengan perkawinan.

Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia, yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridho-Nya:
“Katakan1ah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS, Mi Imran, 3:31).
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta. Sebab dalam pandangannya semua wujud yang ada di sekelilingnya mempunyai manifestasi dari Tuhannya yang membangkitkan kerinduan-kerinduan spiritualnya dan harapan kalbunya.

Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul, yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagal sifat luhur lainnya.
Seorang mukmin yang benar-benar beriman dengan sepenuh hati akan mencintai Rasulullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar di seluruh penjuru dunia. dan membawa kemanusiaan dan kekelaman kesesatan menuju cahaya petunjuk.

C.      KASIH SAYANG

Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalarn berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya. saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, terancamlah kebahagiaan rumah tangga itu.
Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anak yang
telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Bayi yang masih merah telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan ayah ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang/menggendong telah dikenalnya. Hal ini karena sang bayi telah mempunyai kepribadian.
Kasih sayang, dasar komunikasi dalam suatu keluarga. Komunikasi antara anak dan orang tua, pada prinsipnya anak terlahir dan terbentuk sebagal hasil curahan kasih sayang orang tuanya. Pengembangan watak anak dan selanjutnya tak boleh lepas dari kasih sayang dan perhatian orang tua. Suatu hubungan yang harmonis akan terjadi bila hal itu terjadi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Suatu kasus yang sering terjadi, yang menyebabkan seseorang menjadi morffinis, keberandalan remaja, frustrasi dan sebaginya, di mana semuanya dilatarbelakangi kurangnya perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan keluarganya.

D.      KEMESRAAN

Kemesraan berasal dari kata dasar mesra, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab baik antara pria wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.
Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam. Filsuf Rusia, Salovjef dalam bukunya makna kasih mengatakan “jika seorang pemuda
jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dan cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.”
Yose Ortage Y Gasset dalarn novelnya “On love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya.”
Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pencinta tidaklah kehilangan pribadinya dalam aliran energi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
Kemampuan mencinta memberi nilai hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri.
Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dan cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya. Rendra dalam puisinya “Episode” misalnya, melukiskan betapa kemesraan cinta merasuk ke dalam jiwa dua sejoli muda-mudi yang sedang menjalin cinta.

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya
pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya
angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran
tiba-tiba ia bertanya
“mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka ?“
aku hanya tertawa
lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku
sementara itu
aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.

Kemesraan cinta tidak saja terpatri dalam lubuk hati masing-masing tetapi juga memancar dari sinar mata keduanya yang bening dan belaian-belaian mesra jari-jemari mereka yang bergetar.
Tiap manusia pernah bercinta, hanya saja tidak setiap manusia dapat melahirkan rasa cinta dalam bentuk seni.

E.      PEMUJAAN

Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dan kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Apa sebab itu terjadi adalah karena Tuhan menciptakan alam semesta. Seperti dalam surat A1-Furqon ayat 59 - 60 yang menyatakan,  “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudian Dia bertahta di atas singgasana-Nya. Dia maha pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui.” Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang maha pengasih. Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja- Nya. Dalam surat Al-Mu‘minum ayat 98 dinyatakan, “Dan aku berlindung kepada-Mu. Ya Tuhanku, dari kehadiran-Nya di dekatku.
Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, Karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.
Kalau manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuban sungguh maha pengasih lagi maha penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk sholat.
Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain menyatakan, “apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu dipuja oleh segala yang ada di bumi dan di langit...”
Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai macam pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi, dan situasi. Sholat di rumah, di mesjid, sembahyang di pura, di candi, di gereja bahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan dari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
Pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal ini berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala kekurangan yang ada padanya, dan lain-lain.
Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesarannya dan selalu mohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak. Cinta yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Alangkah besar dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.


Sumber: Seri Diktat Kuliah MKDU: Ilmu Budaya Dasar karya Widyo Nugroho dan Achmad Muchji, Universitas Gunadarma



Jumat, 06 April 2012

Tugas IBD Pilihan Ganda 1


Nama : Nadhofa Walannae
NPM : 55411067
Kelas : 1IA03


I. PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG BENAR DARI SOAL BERIKUT INI

1. Mata kuliah pengantar ilmu sosial
a. memberi arahan penekanan materi seluruh ilmu-ilmu sosial
b. memberi arahan penekanan secara global dan tidak mendalam
c. memberi arahan penekanan pada subyek oriented menuju specialisasi
d. memberi penekanan mataeri ilmu sosial secara terperinci
Jawaban: a


2. Ilmu sosial dasar adalah :
a. ilmu yang membahan mengenai masalaha sosial dalam kehidupan masyarakat
b. ilmu yang memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral
c. tujuan pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi
d. pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial yang menggunakan pengertian-pengertian ( fakta, teori, konsep) berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahian
Jawaban: d



3. Latar belakang diberikannya ISD pada prinsipnya adalah menghindari :
a. anggapan bahwa sistem pendidikan kita hanya mementingkan sosial science
b. kritik terhadap sistem pendidikan kita oleh sejumlah cendikiawan
c. anggapan bahwa sistem pendidikan kita tidak berbau kolonial
d. a, b dan c benar
Jawaban: c


4. Tenaga ahli yang dihasilkan oleh perguruan tinggi diharapkan memiliki tiga ketrampilan yang tidak termasuk kedalam kemampuan ini adalah ;
a. personal
b. akademis
c. likwidasi
d. profesional
Jawaban: c


5.Profesional adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan, maksudnya adalah :
a. para tenaga ahli diharapkan mempunyai pandangan yang luas
b. peka terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia
c. para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesi
d. a, b dan c benar
Jawaban: c


6. ISD termasuk program pendidikan umu ( MKDU ) , tujuan dari MKDU adalah untuk
a. memperluas cakrawala perhatian dan pengetahuan para mahasiswa sehingga tidak terbatas pada bidang pengetahuan keahlian golongan asal masing-masing
b. memberi pemahaman kepada mahasiswa sebagai layaknya mata kuliah lain yang diberikan
c. mengantarkan mahasiswa agar menjauhi masalah-masalah sosial
d. a, b dan c benar
Jawaban: a


7 Salah satu definisi ISD adalah ilmu-ilmu sosial yang dipergunakan dalam pendekatan, sekaligus sebagai sarana jalan keluar untuk mencari pemecahan masalah-masalah sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dari pernyataan itu maka ISD itu bersifat :
a. subject-oriented
b. object-oriented
c. problem-oriented
d. humanties
Jawaban: c


8. Ilmu pengetahuan sosial ( IPS ) merupakan :
a. ilmu yang mempelajari manusia dan interaksinya
b. bidang studi yagn merupakan paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial
c. suatu program pelajaran baru yang dikembangkan di perguruan tinggi
d. a, b dan c benar
Jawaban: b


9. Filsafat merupakan sumber ilmu pengeatahuan alam maupun sosial. Hakekat dari ilmu filsafat adalah mempersoalkan
a. asal-usul ilmu pengetahuan
b. hidup dan kehidupan manusia didunia
c. rasa ingin tahu manusia mengenai dunia
d. pencabangan ilmu pengetahuan
e.penelaahan alam sekitar dan perkembangannya
Jawaban: b


10. Menghadapi era globalisasi, lulusan perguruan tinggi dituntut kualitasnya secara memadai. Kualitas tersebut harus terlihat dengan diperolehnya pengetahuan, sikap, tingkah laku dan tindakan sebagai cerminan kepribadian Indoensia. Perolehan-perolehan ini adalah merupakan sebgaian dari kemampuan
A personal
B profesonal
C akademik
D manajerial
E. vokasional
Jawaban: a


11. Lulusan perguruan tinggi perlu memiliki wawasan yang tidak terbatas pada bidang keahliannya. ISD adalah bagian dari program mata kuliah dasar umum untuk membawa mahasiswa agar
A memiliki keahlian beragam menghadapi persaingan dunia kerja
B menyadari posisinya sebagai calon pemimpin masa depan
C peka,terbuka, dan ada rasa tanggungjawab terhadap masalah sekitar
D selalu mengikuti perkembangan masalah – masalah masyarakat
E memiliki kemampuan tinggi dalam profesinya
Jawaban: c


12. ISD dan pengetahuan sosial dibedakan keduanya dalam hal orientasi atas pendekatan yang dilakukan. Beda keduanya adalah :
A isd berorientasi materi, pengetahuna sosial berorientasi multidisiplin
B isd berorientasi materi, pengetahuan sosial berorientasi inter disiplin
C isd berorientasi inter disiplin, pengetahuan sosial berorientasi praktis
D isd berorientasi inter disiplim, pengetahuan sosial berorientasi materi
E isd berorientasi praktis, pengetahuan sosial berorientasi materi
Jawaban: d

Kamis, 05 April 2012

Crabbit's Tips 6: Writing a synopsis

Today's Crabbit's Tips is about how to write a great synopsis. As you know, I've written a book called, ahem, Write a Great Synopsis, but I'm giving you some free advice, too, as ever. The Crabbit's Tips series is available as free downloadable and printable documents and this one is here. God, I'm good to you.


PS Remember: today is the deadline for the What has Twitter Ever Done For You

It's probably your mum's fault

Posted by Lynne Forrest 

I’ve just written a paper that I would like to get published in a high profile journal. Now I need to draft the cover letter explaining why they should publish. The rejection rate is high so I need to emphasise how brilliant and relevant my research is and the important implications my findings have for policy and practice.

The temptation is to exaggerate a bit. And it sometimes appears that the research with the most outlandish claims gets the most attention.

I have a general interest in epidemiology and health inequalities . Interesting new studies are flagged up every day on my twitter feed and in the mainstream media. I often read from a professional perspective, but it's hard not to also read these articles as me - wife, mother, Lynne. Although the usual culprits of alcohol, obesity and smoking all feature as things we should avoid if we want to live a long and healthy life, there appears to be a new risk factor in town. If you believe recent research then it seems that almost everything, from stupidity to earning potential, can be blamed on your mum.

Philip Larkin: This be the verse

Last week the Observer reported a study claiming that feeding babies on demand increases a child’s IQ. The implication is that if you were a regimented mother you may have reduced your child’s intellectual potential.

Yesterday I read that happy children are likely to earn more in the future, with a throwaway line at the end of the article suggesting how important it was that parents create an ‘emotionally healthy home environment’. 

However, my favourite finding from last week was non-mum-related. It was the study which concluded that eating chocolate makes you slim.

As someone who knows a bit about it, I am bamboozled by the endless amounts of contradictory research and advice that are presented in the media. So, I imagine that most other people are too. Although these are often epidemiological studies that examine trends at a population-level, it seems easy for everyone to forget this and to interpret the findings at an individual level. Just because people who eat more chocolate, overall, tend to be a little slimmer, doesn't mean that that bar of Dairy Milk I just scoffed is going to make me drop a jean size tomorrow. For me the result is an awful lot of parental guilt. And I should know better.

Perhaps some of the wilder conclusions have more to do with press releases and journalists then what the researchers themselves actually concluded. But still, shouldn't researchers have to take some responsibility for their work?

So now I am thinking that I need to be a bit more careful about overplaying the implications of my research. However much I want to ‘sell’ my paper to that high profile journal. 

From a mum’s point of view, it’s probably best to just accept that everything is my fault. At least I can eat as much chocolate as I like (that study is true, isn’t it?)

Rabu, 04 April 2012

What, Me Debate?

Barry Eisler is participating in an online debate today on the Seattle Times website about Amazon.

I offered this quote to Barry for him to use at his discretion:

"J.A. Konrath, who has sold over 800,000 ebooks--the vast majority via Amazon--told me he had no interest in participating in this discussion because he doesn't expect the Seattle Times to be around for much longer. He said, and I quote, 'People paying to get their news delivered via dead trees? That's so 2002.' He also said, 'They won't print my quote. But I'm not hurt by this, because pretty soon they aren't going to be printing anything.'"

This does, however, bring up a point Barry and I often discuss between ourselves. Barry will be debating with a reporter, another author, and a book critic.

But where is the Big 6 representative? Where is the publishing professional?

The Times ran a four part hit piece on Amazon (if you don't think it's a hit piece, read it and then the reader comments.) You'd think that some Big 6 pro who hates Amazon would relish the chance to express the reasons for it in a public forum.

But they aren't. For the same reason they don't come to this blog and debate me.

I wouldn't ever say my website is so important that every criticism I have of the industry should be answered by industry professionals. But points I've raised (and that Barry has raised) on my blog have become widely known and accepted by a large group of writers, our advice is consistently taken, our actions emulated, and our names mentioned on a regular bases when the topics of self-publishing and ebooks are brought up. Even secular atheists such as Richard Dawkins and the late Chris Hitchens were invited to churches, synagogues, and religious colleges to engage in open debate. I've been asked to do so many media interviews that I've turned the majority down. Whether the industry likes it or not (and whether I like it or not) I'm a mouthpiece for the future of publishing.

But those people who work in the industry that I consistently, thoroughly, and publicly eviscerate don't speak publicly of me, or acknowledge my views.

I'd love to debate John Sargent, Megan Tingley, Jamie Raab, or even Scott Turow--folks who have said such jaw-droppingly stupid things that my gallbladder squirts bile when I read them.

The publishing industry employs thousands of people who are invested in its success. It has spawned several periodicals, newsletters, and websites dedicated to reporting industry happenings. These people can come to my blog anonymously, at any time, and explain how I'm wrong.

But that won't ever happen. And it isn't because they fear my rapier wit or harsh criticism, or because they despise me so much they refuse to acknowledge me.

They won't address my points for a simple reason: they can't. They still believe in a flat earth, and that's what they've invested in, monetarily and emotionally. If I worked for the Big 6, I wouldn't debate me either. No one wants to be shown how wrong they are. No one wants to be told that their relevance is fading. The majority of the world would rather defend their wrong-headed beliefs to the death than consider changing their minds. It's a flaw of the human psyche.

This doesn't bother me. It amuses me. The asteroid has already hit, and the dinosaurs still believe they'll continue rule the earth. Let them. We won't have to put up with their silliness much longer. As I said years ago, the Big 6 are selling drinks on the Titanic. I haven't seen a single one yet acknowledge the need to run for the lifeboats.

Oh, well. Natural selection is a bitch.